Gegap gempita Piala Dunia 2010 segera menjelang. Tapi mungkin banyak orang yang belum tahu, 80 tahun yang lalu, turnamen akbar empat tahunan tersebut justru dibidani seorang pria yang sama sekali tidak pernah bermain sepak bola.
Jules Rimet, pria kelahiran Prancis, 24 Oktober 1873, tumbuh dengan menggandrungi anggar dan olahraga lari. Tetapi ia kemudian berpaling pada sepak bola untuk mewujudkan mimpinya menciptakan perdamaian dunia.
Jules Rimet lahir dari keluarga pedagang kelontong miskin. Ketekunannya dalam belajar mengantar ia menjadi seorang pengacara. Di sela kesibukan pekerjaannya, pada usia 24 tahun, Maret 1897, ia bersama beberapa rekannya mendirikan klub olahraga Red Star di Paris. Klub itu mewadahi berbagai macam olahraga, termasuk sepak bola yang pada saat itu masih dipandang sebelah mata di Prancis.
Cabang sepak bola itulah yang membuat nasib Rimet lebih jauh. Ia ikut membidani lahirnya badan sepak bola dunia, Federation International de Football Association (FIFA) pada 1904. Selain itu, ia juga berhasil menyatukan federasi-federasi sepak bola Prancis ke dalam satu wadah : Federation Francaise de Football (FFF) pada 1910.
Rimet bersama rekan senegaranya yang juga Sekretaris Jenderal FFF, Henry Delaunay, mulai mengkampanyekan usul digelarnya Piala Dunia. Usul tersebut akhirnya disetujui pada kongres FIFA di Amsterdam, 28 Mei 1928.
Piala dunia pertama digelar pada 1930 di Uruguay, meski Hungaria, Italia, Belanda, Spanyol dan Swedia juga berhasrat jadi tuan rumah. Uruguay terpilih karena merupakan pemegang medali emas Olimpiade 1924 dan 1928, serta siap menanggung semua biaya peserta.
Selama 33 tahun dibawah kepemimpinan Rimet, FIFA tumbuh menjadi organisasi besar. Saat ia pertama kali menjadi ketua, anggota FIFA hanya belasan. Hinnga pada 1954 lembaga itu beranggotakan 85 negara.
Pada 1956, Jules Rimet sempat dinominasikan untuk Hadiah Nobel, tapi juru Norwegia menolaknya. Beberapa kalangan menyebut kontroversi mengenai Piala Dunia 1934, yang dianggap profasis, memupus kesempatan Rimet meraih Hadiah Nobel.
Selasa, 04 Mei 2010
Soccer City Stadium
Stadion yang terletak di pinggiran Kota Johannesburg ini akan menjadi tempat pertandingan pembuka dan final Piala Dunia 2010, selain enam laga lainnya. Soccer City merupakan stadion terbesar di seantro Afrika yang berkapasitas 94 ribu tempat duduk.
Stadion ini memiliki sejarah panjang. Pada tahun 1990, tempat yang dulunya bernama FNB Stadium itu pernah digunakan oleh Nelson Mandela untuk menyampaikan pidato pertamanya setelah bebas dari kurungan penjara selama 27 tahun. Di stadion itu pula tim Bafana Bafana-julukan tim nasional Afrika Selatan-pernah berjaya dan menjuarai Piala Afrika pada tahun 1996.
Sehubungan dengan terpilihnya Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010, FNB Stadium didesain ulang dan diperluas pada 2009. Stadion baru didesain menyerupai calabash, kendi khas Afrika yang berasal dari kulit buah. Sang arsitek dari Boogertman & Partners mengatur agar tak ada penonton yang berjarak lebih dari 100 meter dari lapangan dan setiap kursi memiliki pandangan penuh ke segenap lapangan.
Pengerjaan stadion ini sempat molor. Dijadwalkan rampung pada pertengahan Maret, Soccer City baru akan diserahkan ke FIFA pada 30 April. Tapi secara umum stadion sudah siap pakai. Untuk urusan interior sudah 100 persen rampung. Yang masih terus dikebut hanyalah pengerjaan instalasi kabel fiber dan pembenahan jalan di bagian luar.
Sejak awal tahun, stadion ini sudah dibuka untuk umum. Pengelola membuka tur yang berdurasi 60-70 menit lima kali sehari selama seminggu. Dan hasilnya mendapatkan respon yang baik dari masyarakat. Tercatat, ada sekitar 4.000 pengunjung yang ikut tur pada bulan Maret.
Stadion ini memiliki sejarah panjang. Pada tahun 1990, tempat yang dulunya bernama FNB Stadium itu pernah digunakan oleh Nelson Mandela untuk menyampaikan pidato pertamanya setelah bebas dari kurungan penjara selama 27 tahun. Di stadion itu pula tim Bafana Bafana-julukan tim nasional Afrika Selatan-pernah berjaya dan menjuarai Piala Afrika pada tahun 1996.
Sehubungan dengan terpilihnya Afrika Selatan sebagai tuan rumah Piala Dunia 2010, FNB Stadium didesain ulang dan diperluas pada 2009. Stadion baru didesain menyerupai calabash, kendi khas Afrika yang berasal dari kulit buah. Sang arsitek dari Boogertman & Partners mengatur agar tak ada penonton yang berjarak lebih dari 100 meter dari lapangan dan setiap kursi memiliki pandangan penuh ke segenap lapangan.
Pengerjaan stadion ini sempat molor. Dijadwalkan rampung pada pertengahan Maret, Soccer City baru akan diserahkan ke FIFA pada 30 April. Tapi secara umum stadion sudah siap pakai. Untuk urusan interior sudah 100 persen rampung. Yang masih terus dikebut hanyalah pengerjaan instalasi kabel fiber dan pembenahan jalan di bagian luar.
Sejak awal tahun, stadion ini sudah dibuka untuk umum. Pengelola membuka tur yang berdurasi 60-70 menit lima kali sehari selama seminggu. Dan hasilnya mendapatkan respon yang baik dari masyarakat. Tercatat, ada sekitar 4.000 pengunjung yang ikut tur pada bulan Maret.
Langganan:
Komentar (Atom)
