PSSI kembali menjadi sorotan publik. Bukan karena prestasi, tapi lebih dikarenakan kegagalan-kegagalan yang terus menghantam sepak bola tanah air di berbagai ajang. Anjing menggonggong kafilah berlalu. Mungkin ungkapan tersebut sangat pantas diungkapkan oleh para pengurus PSSI saat ini. Meskipun berada dalam tekanan publik, tak membuat pengurus PSSI gentar dan cenderung hanya mendiamkan saja prestasi sepak bola yang terus menukik.
Mencari “kambing hitam” tampaknya menjadi jurus ampuh bagi organisasi yang di ketuai oleh Nurdin Halid tersebut untuk menghindari kritikan publik. Dalam hal ini, para pemain Timnas-lah yang didaulat menjadi korban “kambing hitam” Nurdin Halid. Pernyataan ketua PSSI yang menyalahkan seluruh kegagalan kepada pemain sontak membuat para punggawa Timnas berang. Mereka jelas sangat kecewa dengan pernyataan sang ketua umum tersebut yang selalu bertindak tidak sportif dan tidak mau di salahkan. Padahal jika melihat kondisi Timnas saat ini, PSSI harusnya yang bertanggung jawab atas semua kegagalan ini mengingat PSSI-lah yang selaku organisasi tertinggi sepak bola di Indonesia.
Masyarakat yang sudah muak dengan prestasi sepak bola dibawah rezim Nurdin Halid tampaknya menginginkan muka baru yang lebih pantas dalam mengurus berbagai persoalan PSSI. Tapi para pengurus PSSI tetap tidak mau mundur dari jabatannya dan terus meyakinkan masyarakat untuk prestasi yang lebih baik. Itulah gambaran pengurus PSSI yang sudah jelas bekerja tidak professional. Untuk urusan yang satu ini mereka malah menyalahkan wartawan yang menurutnya selalu memberitakan prestasi buruk Timnas. Padahal memang kenyataannya seperti itu adanya. Timnas memang tidak pernah mendapat prestasi yang baik sejak PSSI dibawah kepemimpinan Nurdin.
Tak salah jika masyarakat semakin resah mengikuti perkembangan dunia sepak bola negeri ini yang semakin tidak jelas arah tujuannya. Mengharapkan para pejabat PSSI mengakui kegagalan dan mau meletakkan jabatannya tampaknya hanya impian saja mengingat PSSI dibawah komando Nurdin Halid merupakan sosok yang “gemar” melawan arus.
Ukuran keberhasilan dalam olahraga terutama sepak bola begitu sederhana yakni prestasi. Nah jika dalam rentang waktu kepemimpinan sebuah rezim kepengurusan PSSI tidak menghasilkan apa-apa, jawabannya jelas mereka gagal. Persoalannya hanya pada kejujuran dan kedewasaan untuk mau atau tidak mengakui kegagalan tersebut.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar